Tampilkan postingan dengan label Religion Intelegent. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religion Intelegent. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 November 2015

Bergugurannya orang-orang yang memperjuangkan dakwah telah menjadi masalah yang mewarnai perjalanan suatu gerakan dakwah Islam dimanapun dan kapanpun gerakan tersebut eksis. Fenomena tasaquth (berguguran) dan insilakh (melepaskan diri dari dakwah) sangat bisa menggerogoti setiap muslim yang bergabung dalam gerakan dakwah Islam apapun; dakwah di bidang politik, sosial, akademik, masyarakat, maupun keprofesian.



Bergugurannya seseorang di jalan dakwah bermakna pengunduran dirinya dari kancah perjuangan Islam, baik dengan perkataan atau mungkin cukup dengan sikapnya yang semakin menjauh dari dakwah. Hilangnya semangat juang, kaburnya niatan ikhlas, ketidakdisiplinan, berkurangnya porsi waktu untuk mengurus dakwah, meremehkan berbagai fadhilah atau keutamaan dakwah, serta mengabaikan ketetapan syari’at merupakan indikasi seseorang tergerogoti ‘virus’ tasaquth ini. Bukan berarti ia tidak mengerti Islam atau dakwah, bahkan mungkin ia sangat mengerti Islam, dakwah, dan syari’at, dan pada masa sebelumnya ia termasuk dalam orang-orang yang sangat bersemangat mengobarkan api perjuangan dakwah. Tetapi tasaquth yang menggerogoti dirinya disebabkan ketidak-kuatan jiwanya dalam menanggung sengitnya perjuangan dakwah yang panjang nan melelahkan serta beragam variasi bentuk fitnah atau ujian yang dia alami di setiap perubahan waktu dan kondisi.

Di satu sisi, memang Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan dakwah sebagai kewajiban syar’i dan memiliki tabi’atnya sendiri. Jalan dakwah adalah jalan ujian, dalam rangka menguji tingkat keimanan seorang Muslim. Inilah inti dari segala bentuk tabi’at jalan dakwah. Memang, kemenangan dan tegaknya Islam merupakan tujuan konkret dakwah. Namun Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah memaksa para pejuang-Nya untuk bersegera mewujudkan hal ini, karena kemenangan hanya datang dari sisi-Nya. Justru dalam berbagai keterangan dalam Al-Qur’an, Allah seringkali mewasiatkan pada hamba-Nya yang berjuang untuk tetap pada rambu-rambu yang digariskan syari’at, bersabar dalam menghadapi fitnah, ikhlas demi kehidupan akhirat, mencintai bentuk-bentuk pengorbanan, dan berhati-hati dalam menghadapi gejala tasaquth.

Ini menandakan bahwa fenomena bergugurannya orang-orang Muslim dari jalan dakwah-ujian ini telah ada akan selalu ada. Rasulullah saw. bersabda, “Bagaimana kalian, jika wanita-wanita telah bejat, para pemuda berbuat fasik dan kamu meninggalkan jihad?” Para sahabat bertanya, “Apakah hal demikian bakal terjadi wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Benar, dan demi yang diriku dalam genggaman-Nya, lebih dahsyat dari itu pun bakal terjadi. Bagaimana kalian jika kalian tidak memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar?” Para sahabat bertanya, “Apakah hal itu bakal terjadi wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Benar, dan demi yang diriku berada dalam genggaman-Nya, lebih hebat dari itupun bakal terjadi.” Mereka bertanya, “Apakah yang lebih hebat itu?” Nabi menjawab, “Bagaimana jika kalian memandang yang ma’ruf sebagai yang munkar dan memandang yang munkar sebagai yang ma’ruf.” Para sahabat bertanya, “Apakah hal demikia bakal terjadi?” Nabi menjawab, “Benar, dan demi yang diriku dalam genggaman-Nya, lebih dahsyat dari itu pun bakal terjadi. Bagaiamana jika kalian memerintahkan yang munkar dan melarang yang ma’ruf?” Para sahabat bertanya, “Apakah demikian bakal terjadi?” Nabi menjawab, “Benar, lebih hebat dari itu pun bakal terjadi. Allah swt. berfirman dalam hadits Qudsi, ‘Demi Diriku, Aku bersumpah akan kutimpakan kepada mereka fitnah di mana orang-orang bijak menjadi kebingungan.’” (Abu Ya’la)

Di sisi lain, keniscayaan terjadinya fenomena tasaquth ini sama sekali tidak boleh membuat kita menganggapnya sebagai sebuah kewajaran. Bahkan kita terus dituntut untuk serius berusaha meminimalisir terjadinya tasaquth ini dengan segala upaya demi menyelamatkan dan menjaga keberkahan gerakan dakwah yang kita perjuangkan.

Dalam kajiannya, Fathi Yakan menjelaskan analisis tentang fenomena tasaquth ini disertai penyebab-penyebab terjadinya. Harapannya, dengan mengetahui penyebab-penyebab tasaquth, setiap Muslim yang memperjuangkan dakwah dapat lebih mawas diri dalam amal-amalnya.

Mukadimah

Perlu diingat bahwa fenomena berjatuhan ini banyak terjadi dan menimpa pada barisan terdepan. Yaitu, para pendiri dan generasi awal pergerakan, meski para penerusnya juga tidak terbebas dari fenomena tersebut. Fenomena berguguran ini telah, dan akan selalu menorehkan keburukan dalam kancah amal Islami. Berikut penulis sebutkan beberapa dampak buruknya.

Menyebabkan terkurasnya waktu dan energi pergerakan dalam menangani hal-hal yang sedikit sekali manfaatnya.
Menyebabkan tersebarnya berbagai fitnah, perpecahan, dan kehancuran dalam tubuh pergerakan, hingga mementahkan kembali orang-orang yang baru masuk Islam dan baru mengenal dunia dakwah.
Menyebabkan terbongkarnya berbagai rahasia yang seharusnya tersimpan rapi. Andaikata tidak ada tekanan fitnah, dan lidah serta telinga tidak terjerat dalam cengkeraman setan, maka rahasia itu  tidak akan terungkap.
Menyebabkan lemahnya pergerakan, serta memancing musuh agar segera menyerang dan menghancurkannya.
Menyebabkan jauhnya kaum muslimin dari pergerakan, melemahnya kepercayaan dan terjadinya pelecehan terhadapnya. Ini semua dapat memandulkan produktivitas, bahkan terkadang dapat menghentikan aktivitas dakwah secara total.
Lihat QS Al-Anfal : 25

Bagian Pertama: Fenomena Berjatuhan di Masa Kenabian

Fenomena berjatuhan di jalan dakwah pada masa kenabian tidak tampak jelas seperti yang terjadi pada zaman modern sekarang ini. Kebanyakan yang terjadi pada masa itu adalah terjatuhnya beberapa pribadi ke dalam kekeliruan, meski sebagiannya merupakan kesalahan besar. Hal ini disebabkan tabi’at amal pada masa itu membawa manusia pada salah satu dari dua pilihan, dan tidak ada pilihan yang ketiga. Yakni, memilih hidup secara Islami atau jahiliyah. Hal ini menyebabkan, kaum muslimin pada masa itu tak berani keluar dari barisan Islam, karena takut pada sanksi kemurtadan.

Fenomena Pertama: Yang Tertinggal dari Perang Tabuk

Perang Tabuk adalah perang yang disiapkan oleh Rasulullah saw. secara terang-terangan dalam rangka menghadang kaum Romawi dan Ghassan di utara yang diisukan bahwa mereka menyiapkan segelar pasukan yang besar. Perang ini amat penting, namun saat itu sedang terjadi musim kemarau panjang dan buah-buahan sedang masak. Karena itu, peperangan ini Allah jadikan sebagai pelajaran berat bagi kaum mu’min sekaligus mengeliminasi kaum munafik, sebagaimana yang diterangkan dalam beberapa ayat surat At-Taubah.

Sebanyak tiga puluh ribu prajurit Muslim berangkat, meninggalkan kaum muslim yang secara syar’i diperbolehkan untuk tidak mengikuti peperangan. Namun, di antara mereka ada segelintir orang munafik yang mencari-cari alasan untuk tidak mengikuti peperangan. Bukan berarti mereka tidak mampu, namun hati mereka menjadi kecut dalam menghadapi perang pada masa itu.

Tatkala Rasulullah saw. kembali ke Madinah, orang-orang yang tidak mengikuti peperangan mengemukakan alasan-alasan mereka. Namun, di antara mereka ada tiga orang yang dalam hatinya masih tertanam keimanan yang kuat. Mereka mengakui kelalaiannya di hadapan Rasul, dan mengatakan bahwa tidak ada halangan berarti untuk mengikuti peperangan. Berdasarkan wahyu yang diterima, Rasulullah saw. memerintahkan untuk mengisolir mereka (tidak mengajak bicara sedikitpun). Mereka adalah Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah. QS At-Taubah : 95-96, 117-119

Fenomena Kedua: Kisah Ka’ab bin Malik

Ka’ab bin Malik adalah salah satu dari tiga orang yang di-iqob oleh Rasul, dan kisahnya amat terkenal. Ka’ab dan ketiga sahabat yang lain diisolir hingga lima puluh hari setelah Allah menurunkan ayat yang menerangkan penerimaan taubat mereka di sisi Allah.

Fenomena Ketiga: Kisah Hathib Abi Balta’ah

Hathib bin Abi Balta’ah dapat dikatakan melakukan sesuatu yang dewasa ini dianggap sebagai pembocoran rahasia negara dan pengkhianatan besar, sehingga memunculkan sikap anti pati dari massa dan sikap pemaaf dari kepemimpinan.

Saat Rasulullah saw. merencanakan pemberangkatan segelar pasukan muslim menuju Makkah, beliau berusaha menjaga agar orang-orang Makkah tidak tahu menau mengenai pemberangkatan ini, dengan tujuan mereka tidak sempat mengadakan persiapan sedikitpun untuk melawan, sehingga seluruh kondisi sepenuhnya dikuasai kaum Muslimin. Namun, secara sembunyi-sembunyi Hathib bin Abi Balta’ah mengirimkan surat untuk orang-orang Makkah tentang pemberangkatan ini, dengan perantara seorang wanita. Namun, kabar ini dapat diketahui Rasulullah saw. dan akhirnya terbongkar. Para sahabat sangat geram, namun Rasulullah saw. memaafkan tingkah Hathib ini sebagai penghormatan dirinya sebagai pejuang Badar. Berkenaan dengan peristiwa ini, turun QS Al-Mumtahanah : 1-4.

Fenomena Keempat: Masjid Dhiror

Kaum munafik pada zaman Rasulullah saw. selalu mencari-cari celah untuk menggoyahkan kekuatan kaum Muslimin dari dalam. Karena itu, mereka mendirikan Masjid Dhiror dengan dalih sebagai tempat ibadah dan menyelesaikan persoalan sosial ummat. Mereka meminta Rasulullah saw. untuk shalat di masjid mereka, sepulang dari perang Tabuk. Namun, Rasulullah saw. menerima informasi dari wahyu bahwa masjid tersebut digunakan oleh kaum munafik sebagai tempat menyusun konspirasi. Karena itu, Allah memerintahkan Rasul untuk membakar masjid tersebut. QS At-Taubah : 107.

Fenomena Kelima: Berita Bohong

Berita bohong ini berkenaan dengan istri Rasulullah saw. pada peristiwa pasca perang Bani Musthaliq. Berita bohong ini sengaja disebarluaskan oleh kalangan orang-orang munafik dalam rangka menghancurkan harga diri Rasulullah saw. dan keluarganya. Allah swt mengabadikan peristiwa ini di dalam QS An-Nur : 11 – 23.

Fenomena Keenam: Kisah Abu Lubabah

Abu Lubabah adalah duta Rasulullah saw. untuk kaum yahudi Quraizhah saat orang-orang Islam mengepung mereka akibat pengkhianatan mereka pada perang Ahzab. Rasul memerintahkan Abu Lubabah untuk berbicara dengan orang-orang Yahudi, namun ia berkhianat. Karena merasa bersalah, ia mengikatkan diri di tiang masjid Nabi dan tidak akan melepaskannya kecuali Rasulullah saw. sendiri yang melepasnya. Berkenaan dengan peristiwa ini, turun QS Al-Anfal : 27, At-Taubah : 102.

Problem dan krisis yang sering muncul di masyarakat, dan menimpa umat Islam, kebanyakan bersumber dari buruknya tarbiyah serta lemahnya komitmen seseorang pada syari’at Allah.

Rusaknya sifat amanah, timbulnya ambisi kekuasaan, minimnya kesetiaan, pengingkaran terhadap kebaikan, pergunjingan dan adu domba, kebencian dan iri hati, bangga diri, ekstrem, serta berbagai penyakit lain yang menggerogoti dan meracuni bangunan Islam biasanya bermula dari penyimpangan dalam tarbiyah Islam dan buruknya kepribadian.

Kondisi ini semakin memperkuat, bahwa pergerakan Islam harus memberikan perhatian besar pada aspek pendidikan aqidah, ruhaniah dan akhlak. Juga, mencegah dominasi aspek-aspek lainnya, seperti birokrasi dan politik. Sebab aspek itu (pendidikan aqidah, ruhaniah, dan akhlak) meruppakan kendali pengaman kepribadian.

Sebab-sebab Tasaquth

Pertama: Sebab-sebab yang Bersumber dari Pergerakan

1.  Lemahnya Aspek Tarbiyah

Aspek tarbiyah atau pendidikan dalam suatu pergerakan (harakah) terkadang hanya mendapat porsi yang terbatas. Sementara, aspek-aspek lainnya, seperti administrasi organisasi, dan politik mengalahkan segala hal. Kalangan yang kerap kali terjebak seperti itu adalah para pemimpin, administrator, dan orang-orang yang memegang urusan politik dan sosial. Sehingga, membuat mereka putus hubungan dengan tarbiyah serta segala urusan yang berkaitan dengannya. Pada gilirannya, hubungan-hubungan, pertemuan-pertemuan, dan aktivitas-aktivitas mereka menjadi kering dan sepi dari kehidupan Robbani juga kesegaran ruhani. Keterangan: QS Al-Fath: 4, QS Al-Kahfi: 13, QS Maryam: 76, QS Muhammad: 17, QS Muddatstsir: 31.

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya iman itu bisa menjadi lusuh dalam diri salah seorang dari kamu sebagaimana lusuhnya pakaian. Karena itu, mohonkanlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman yang ada di dalam hatimu.” (HR At-Thabarani dan Al-Hakim).

Perhatian setiap individu, baik sebagai bawahan maupun atasan, terhadap tarbiyah seharusnya menjadi kesibukan utama bagi sebuah pergerakan. Bagaimanapun kondisi yang terjadi di sekelilingnya, bahkan situasi buruk apapun yang kadang mengiringi jalannya dakwah, tetap harus memperhatikan tarbiyah, bukan malah sebaliknya. Sebab kebutuhan manusia akan pemeliharaan, perhatian dan peringatan justru lebih besar pada situasi darurat.

Islam juga mengharuskan umatnya untuk selalu memperhatikan diri, merasa selalu dipantau oleh Robbnya, menjaga perilakunya dan menyuburkan keimanannya. Sebab, hati seorang mukmin akan selalu berada di antara jari-jari Ar-Rahman. Ia dapat membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya dan berbagai fitnah dapat merasuk ke dalam hatinya secara bertahap, sebagaimana anyaman tikar. Karena itu, seorang mukmin selalu khawatir mendapat kesengsaraan di akhirat dan selalu memohon kepada Allah swt. agar mendapat kesudahan yang baik (khusnul khotimah).

Apabila sebuah harakah tidak memiliki sistem tarbiyah yang mampu mengontrol, menjaga, dan membina anggotanya, maka akan menemui keruntuhan dan kehancuran. Sebaliknya, pergerakan akan memiliki ketahanan dan kesolidan seukuran perhatian yang diberikannya pada aspek pembinaan.

Karena itu, manhaj (metode) pembinaan harus selalu dikaji, serta disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi yang dilalui oleh pergerakan. Aktivitas tarbiyah tidak boleh berhenti atau terputus karena adanya situasi darurat, atau karena perhitungan dari salah satu aspek operasional. Dan seluruh anggota pergerakan, tanpa kecuali, wajib mendapat kontrol tarbawi dengan mekanisme tertentu.

Ikatan individu dengan pergerakan harus dibangun di atas ikatannya dengan Allah dan ajaran Islam. Sebab, pergerakan atau struktur bukan tujuan. Melainkan sarana untuk melaksanakan perintah Allah dan menggapai keridhoan-Nya, bukan sarana untuk mewujudkan kepentingan pribadi para aktivisnya.

2.  Tidak Proporsional dalam Memposisikan Anggota

Problem ini selalu mengantar pada kegagalan aktivitas dan bergugurannya sebagian aktivis. Pergerakan yang profesional dan matang adalah pergerakan yang mengetahui kemampuan, kecenderungan, dan bakat para anggotanya. Juga, mengenal titik-titik kekuatan dan kelemahan mereka. Dengan begitu lembaga ini dapat menempatkan setiap anggota pada posisi sesuai dengan kemampuan, kecenderungan, watak, dan levelnya. Tidak asal pasang orang.

Bila sebuah lembaga pergerakan tidak mengenal potensi anggota-anggotanya secara detail dan teliti, maka tidak akan berhasil memposisikan mereka secara tepat.

Dan jika pergerakan tidak mengenal kebutuhan setiap pos aktivitas, maka tidak akan mampu mengisinya secara benar dan baik. Karena itu, bila sebuah lembaga pergerakan dalam melakukan proses pemilihan anggota tanpa menggunakan pertimbangan-pertimbangan obyektif, maka rusaklah keseimbangan seluruh jaringannya.

Selain itu, apabila sebuah lembaga pergerakan tidak membangun aktivitas programnya pada kaidah dan prinsip yang teruji, tidak menyesuaikan langkahnya dengan rencana dan metode yang telah ditetapkan, tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan hari ini, dan apa yang harus ditangguhkan untuk esok, tidak dapat membedakan yang penting dan yang lebih penting, serta tidak menjadwal berbagai aktivitasnya berdasarkan skala prioritas, maka yang akan terjadi adalah kerancuan. Bahkan dengan terpaksa pergerakan mengisi pos-pos yang masih kosong dengan orang-orang yang tidak berkualitas, dan menyerahkan urusan kepada selain ahlinya. Bila itu yang dilakukan, maka tunggulah saat kehancurannya.

3.  Tidak Memberdayakan Semua Anggota

Faktor ini merupakan fenomena yang paling berbahaya bagi suatu pergerakan, karena hal ini menyebabkan aktivitas menjadi menumpuk pada kelompok tertentu. Sementara kelompok mayoritas tidak mendapatkan tugas. Sedangkan waktu terus berjalan, akal dan hati pun berubah-ubah, anggota pergerakan merasa tidak produktif karena lemahnya ikatan keanggotaannya. Di sisi lain, berbagai daya tarik kesibukan dan pesona yang beraneka ragam membayang di depannya, akhirnya semangat dan motivasi jihad yang ada dalam hatinya melemah, lantas ia menghilang dari pentas dakwah, dan terhanyut dalam arus masyarakat serta kesia-siaan yang ada di dalamnya.

4.  Lemahnya Kontrol

Di antara penyebab berjatuhan dari jalan dakwah adalah karena tidak adanya kontrol terhadap anggota. Juga, kurangnya perhatian terhadap berbagai situasi yang berpengaruh pada mereka. Sebagaimana umumnya manusia, anggota pergerakan juga menghadapai situasi sulit, krisis dan aneka ragam problem. Baik persoalan kejiwaan, keluarga, ekonomi, atau lainnya. Apabila pergerakan turut membantu mencari solusi dan menyelesaikan semua itu, maka mereka akan melewati masa-masa sulit itu dengan selamat. Setidaknya, anggota merasa nyaman dan diperhatikan oleh lembaga yang selama ini memayunginya. Dan bila itu dilakukan, kepercayaan anggota terhadap pergerakan  semakin mantap. Ia pun akan melanjutkan perjuangan dengan penuh semangat. Tetapi bila yang terjadi sebaliknya, maka mereka akan kecewa, frustasi dan akhirnya terpental dari pergerakan. Bahkan, mungkin ia akan keluar dari bingkai Islam.

Agar mampu mengontrol anggotanya, maka lembaga pergerakan harus menyeimbangkan perluasan daerah dan penambahan anggota dengan penyediaan jaringan kepemimpinan yang (dalam kondisi apapun) mampu menguasai basis massa, dan menjamin kebutuhan-kebutuhan mereka yang terus berkembang.

Pola hubungan antar anggota dalam sebuah pergerakan yang telah ditentukan oleh Islam adalah pola hubungan yang dapat membaurkan pemikiran, perasaan, dan ruhani seluruh anggota. Sehingga, menjadi seolah-olah satu tubuh, sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintainya, saling mengasihinya, dan saling bersimpatinya seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya mengeluh karena sakit, maka seluruh tubuhnya merasa terpanggil untuk berjaga semalaman dan merasakan demam..” (HR Muslim)

5.  Kurang Sigap dalam Menyelesaikan Persoalan

Setiap pergerakan pasti menemui persoalan yang butuh penyelesaian. Dan, setiap pergerakan memiliki cara dan bentuk tersendiri dalam menangani setiap persoalan tersebut. Apabila suatu lembaga pergerakan melakukan penanganan secara jelas, cepat, dan tepat, maka perjalanannya akan menjadi teratur, dan anggotanya menjadi sehat. Sebaliknya, apabila wadah ini lamban dalam memantau dan menyelesaikan masalah, maka persoalan akan semakin menumpuk dan perjalanan aktivitasnya akan menjadi terganggu.

Sebuah masalah kadang mulanya dipicu oleh persoalan yang kecil dan terbatas. Tetapi bila dibiarkan, akan menjadi semakin besar dan menyebabkan munculnya beberapa problem lain. Terkadang suatu persoalan hanya membutuhkan tidak lebih dari satu kata, satu keputusan, satu kunjungan, sekali pertemuan, sekali pemberian maaf, sekali teguran, sekali nasehat, sekali bantuan, sekali penjelasan, sekali pengungkapan, atau hal-hal mudah lainnya. Tapi ketika persoalan itu dibiarkan dan ditangguhkan, maka akan menyedot banyak energi dan waktu. Sementara persoalan terkadang berhasil diselesaikan dan terkadang tidak dapat diatasi.

Ketidaksigapan pergerakan dalam menyelesaikan persoalannya disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain:

Terkadang disebabkan oleh jajaran pimpinan yang tidak terbiasa dan tidak mampu memberikan solusi secara tuntas serta cepat.
Terkadang disebabkan oleh rutinitas struktural yang mengharuskan setiap persoalan mengalir melalui jajaran struktur, sehingga pimpinan tidak dapat memberikan penyelesaian yang cepat.
Terkadang disebabkan oleh luasnya basis massa, minimnya pemimpin dan kurangnya kemampuan pimpinan dalam memenuhi tuntutan. Padahal, berbagai aktivitas biasanya hanya dapat dipenuhi oleh jaringan kepemimpinan yang full time dan memiliki pengalaman memadai.
6.  Konflik Internal

Sebab-sebab munculnya konflik internal cukup banyak, antara lain,

Lemahnya pimpinan dalam mengendalikan barisan dan mengatur berbagai urusan.
Adanya tangan-tangan tersembunyi dan kekuatan eksternal yang sengaja mengobar fitnah.
Perbedaan watak dan kecenderungan antar anggota yang disebabkan oleh ketidaksingkronan antara tarbiyah dan lingkungan.
Persaingan untuk mendapatkan kedudukan atau posisi struktural maupun politis.
Tidak adanya komitmen pada kebijakan, kaidah-kaidah serta prinsip-prinsip pergerakan, ketidaktaatan pada keputusan jajaran pimpinan, dan munculnya sikap-sikap infiradi (mengabaikan sistem syuro).
Kosongnya aktivitas dan mandulnya produktivitas, padahal keduanya seharusnya menjadi kesibukan satu-satunya para aktivis dakwah dan penguras tenaga mereka.
Contoh kasus ini pada zaman Rasulullah saw. yaitu usaha orang yahudi dalam mengacaukan persatuan Muslim Aus dan Khazraj yang dengannya turun QS Ali Imran: 100 -105.

7.  Pemimpin yang Lemah

Di antara penyebab langsung berjatuhan anggota pergerakan adalah lemah dan ketidakmampuan pimpinan dalam mengendalikan, serta menjaga keutuhan barisan pada setiap situasi.

Lemahnya kepemimpinan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain,

Lemahnya daya nalar dan intelektual pimpinan, sehingga tak mampu memberi kepuasan pada kehausan intelektual pemikiran bawahan. Atau, terkadang ia mampu dalam aspek pemikiran, tapi lemah pada aspek-aspek lainnya.
Terkadang disebabkan oleh lemahnya kemampuan struktural, di mana jajaran pimpinan tidak memiliki bakat dan kemampuan manajerial yang dapat mengendalikan struktur, serta meletakkan prinsip-prinsip dasar keorganisasian. Maka itu, aktivitas menjadi kacau, kepentingan menjadi tumpang tindih, problem semakin menumpuk, dan berbagai permasalahan semakin berkembang. Hal ini dapat memicu munculnya fenomena berguguran di jalan dakwah.
Sifat yang Harus Dimiliki Pemimpin

a.  Mengenal Da’wah

Agar pemimpin dapat mengenal dakwahnya secara sempurna, maka ia harus benar-benar menguasai ideologi, doktrin dan struktur dakwah, mengikuti berbagai aktivitasnya, dan memantau gerak-geriknya.

b.  Mengenal Diri

Mengenali kelemahan diri dan berusaha memperbaikinya.
Mengetahui keunggulan diri dan berusaha mempertahankan, serta mengembangkannya.
Memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan tsaqafah-nya dengan mengkaji berbagai tema, pendapat serta pemikiran-pemikiran politik, sosial, ekonomi, dan seterusnya.
Memiliki semangat untuk mengkaji dan mempelajari tokoh-tokoh pemimpin Islam dan lainnya, mengenali berbagai metode dan gaya kepemimpinan mereka, serta menganalisis berbagai faktor yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalan mereka.
c.  Perhatian yang Utuh

Selalu memberi perhatian pada anggotanya, mengenali mereka dengan baik, memantau berbagai hal yang melingkupi mereka (baik secara umum maupun khusus), menyertai kegembiraan dan kesusahan mereka, dan berusaha menyelesaikan problem-problem mereka.

d.  Teladan yang Baik

Anggota pergerakan akan selalu menganggap pemimpinnya sebagai figure yang diteladani dan ditiru. Tingkah laku, aktivitas, kepentingan, akhlak, perkataan, dan kerja pemimpin, memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap seluruh jamaahnya.

e.  Pandangan yang Tajam

Kemampuan pemimpin dalam melakukan penilaian secara cepat dan tepat terhadap berbagai peristiwa, serta kemampuannya mengambil keputusan tegas dan bijak dalam berbagai situasi, dapat menumbuhkan kepercayaan dan penghargaan anggota kepadanya.

f.  Kemauan yang Kuat

g.  Fitrah yang Mengundang Simpati

h.  Optimisme

Pemimpin adalah perintis jalan dan kepala rombongan yang memiliki pengaruh kuat terhadap barisan. Bila ia lemah dan mudah putus asa, maka barisan pun akan mengikutinya. Bila ia tegar menghadapi berbagai bencana dan berbagai tantangan, maka optimisme dan semangat pantang mundur akan memenuhi jiwa bawahannya.

Kedua: Sebab-sebab yang Bersumber dari Individu

1.  Watak Indisipliner

Di antara mereka ada yang tidak siap memikul beban-beban tugas struktural. Karena itu, ketika mendapatkan tugas, ia berusaha kabur dan melepaskan diri dari struktur dengan berbagai cara dan alasan.
Di antara mereka ada yang enggan meleburkan diri dalam bangunan jama’ah, dan berkeinginan kuat menjaga kepribadiannya. Bila ia merasa ada sesuatu yang dapat menyebabkan kepribadiannya melebur, atau pendapatnya tidak diterima, maka ia berpaling dengan berlindung di balik tirai tebal dalih dan alasan.
2.  Takut Mati dan Miskin

QS An-Nisa: 120

QS Ali Imran: 175

QS Al-Fath: 11

QS Al-Jumu’ah: 6-8

QS Al-Ankabut: 10-11

QS Ali Imran: 168

“Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan).” (HR Muslim, Ahmad, dan At-Turmudzi)

“Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisal dan seterusnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya, bila ia kuat memegang agamanya, maka ujiannya amat berat, dan bila ada kelemahan dalam memegang agamanya, maka akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Cobaan akan selalu datang kepada hamba hingga ia dibiarkan berjalan di atas bumi dengan tidak membawa dosa.” (HR Bukhari , Ahmad, dan At-Turmudzi)

“Orang yang paling berat ujiannya di dunia ini adalah nabi atau kekasih pilihan Allah.” (HR Bukhari)

“Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih. Sungguh salah seorang mereka diuji dengan kefakiran hingga tidak memiliki apa-apa kecuali selembar pakaian yang dipotong lalu dipakai, dan ada di antara mereka diuji dengan kutu kepala yang menyebabkan kematiannya. Sungguh salah seorang dari mereka merasa lebih bergembira mendapatkan ujian daripada mendapatkan anugrah (pemberian).” (HR Ibnu Majah)

“Celakalah hamba dinar, dirham, dan pakaian. Celaka dan sengsaralah ia. Bila ia tertusuk duri, maka semoga tidak akan tercabut.” (HR Ibnu Majah)

“Celakalah hamba istri.” (HR Bukhari)

3.  Sikap Ekstrem dan Berlebihan

Sikap ekstrem dan berlebihan dapat menjadi penyebab bergugurannya sebagian orang di jalan dakwah. Orang yang membebani diri melebihi kemampuannya, tidak menerima sikap moderat, dan bersikeras untuk berlebih-lebihan dalam segala hal, pasti akan mengalami frustasi kejiwaan dan keimanan.

4.  Sikap Mempermudah dan Menganggap Enteng

Dari ‘Aisyah ra. Rasulullah saw. bersabda, “Wahai ‘Aisyah, jauhilah olehmu dosa-dosa yang dianggap kecil, sebab ia punya penuntut dari Allah swt.” (HR Nasa’i dan lainnya)

Dari Anas ra. ia berkata, “Sesungguhnya kamu melakukan beberapa amalan (dosa) yang menurut pandangan mata kamu lebih halus daripada rambut, sedang kami pada masa Rasulullah saw. menganggapnya sebagai hal-hal yang membinasakan.” (HR Bukhari)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra., Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa yang dianggap kecil, sebab ia akan berhimpun hingga membinasakan pelakunya.” Rasulullah saw. mengumpamakan dengan suatu kaum yang singgah di tanah lapang, lantas juru masaknya datang, maka orang-orang datang dengan membawa sebatang kayu, seorang lagi datang dengan membawa sebatang kayu hingga terkumpul banyak, lalu mereka membakarnya, dan dapat memasakkan sesuatu yang dilempar di dalamnya.” (HR Ahmad dan Ath-Thabrani)

5.  Ghurur dan Senang Tampil

Faktor lain yang menjadi penyebab berjatuhan di jalan dakwah adalah penyakit ghurur (tertipu oleh diri sendiri) dan senang menampilkan diri. Penyakit batin ini sangat berbahaya, karena dapat menghancurkan jiwa para aktivis dakwah, merusak amal, menghapus pahala dan mencelakakan mereka di akhirat.

“Sesungguhnya apa yang aku takutkan terhadap ummatku adalah syirik kepada Allah swt., saya tidak mengatakan mereka menyembah matahari, atau bulan atau berhala, akan tetapi amal-amal yang ditujukan kepada selain karena Allah swt, dan syahwat yang tersembunyi.” (HR Ibnu Majah)

(QS Al-Qashash : 83)

“Tiga perkara yang membinasakan: bakhil yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap diri sendiri.” (HR Ath-Thabrani)

“Andaikata kamu tidak berbuat dosa, maka aku khawatir terhadap kamu apa yang lebih besar daripada itu, yaitu sifat ujub.” (HR Ibnu Hibban dan Baihaqi, sedang Bukhari mengingkarinya.)

‘Aisyah pernah ditanya, “Kapan seseorang dianggap berbuat jahat?” Ia menjawab, “Bila menyangka telah berbuat baik.”. Mutharrif pernah berkata, “Saya tidur semalam, dan bangun pada pagi hari dalam keadaan menyesal, lebih aku cintai daripada aku bangun malam (sholat malam) dan di pagi harinya aku merasa bangga (ujub).”

6.  Cemburu terhadap Orang Lain

Di antara sebab yang membuat seseorang terjatuh di jalan dakwah adalah cemburu buta terhadap orang lain. Terutama, terhadap orang-orang yang terdepan, terpandang, sukses, dan yang dikaruniai keahlian yang tidak dimiliki orang lain. Setiap jama’ah menghimpun barisannya dengan beragam jenis orang yang memiliki tingkat keahlian berbeda. Begitu juga dengan keragaman kepribadian, kejiwaan, kefanatikan dan pemikiran.

(QS Al-Maidah: 27-30)

(QS An-Nisa : 54)

“Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah olehmu prasangka (buruk), karena sesungguhnya prasangka (buruk) itu perkataan yang paling dusta. Dan janganlah kamu mengorek-ngorek berita, janganlah kamu memata-matai, janganlah kamu saling bersaing, janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu saling marah, dan janganlah kamu saling membelakangi (membenci). Jadilah kamu hamba Allah swt yang bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah swt. Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh membiarkannya (tidak menolongnya), dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu di sini, taqwa itu di sini (beliau mengisyaratkan ke dadanya). Cukuplah dosa seseorang kalau dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, kehormatannya dan hartanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

7.  Fitnah Senjata

Sikap ekstrem yang paling berbahaya adalah yang berkaitan dengan penggunaan kekuatan. Karena hal itu dapat menimbulkan  perkara yang tidak hanya menimpa personal, tetapi juga dapat menimpa sebuah wadah pergerakan secara keseluruhan.

Sebab timbulnya fitnah senjata:

Pertama, tidak jelasnya tujuan pembentukan kekuatan

Kedua, tidak memenuhi syarat penggunaan kekuatan

A.  Mengoptimalkan penggunaan sarana-sarana lain terlebih dahulu, sehingga penggunaan kekuatan fisik menjadi penyelesaian akhir

B.  Menyerahkan persoalan pada kebijakan imam dan jama’atul muslimin (khilafah Islam), bukan pada perorangan atau masyarakat umum

C.  Tidak mengundang kerusakan atau fitnah

D.  Tidak melanggar kebijakan syari’at

E.  Disesuaikan dengan skala prioritas

F.  Dipersiapkan dengan benar dan matang

G.  Tidak gegabah dan reaksioner

H.  Tidak menjerumuskan umat Islam dalam pertarungan yang tidak seimbang

Ketiga: Sebab-sebab Eksternal

1.  Tekanan Tribulasi

Tribulasi atau penyiksaan fisik dalam kehidupan dakwah dan da’inya adalah alat pembersih paling efektif dan penguji paling berhasil. Berapa banyak orang yang menghilang dari panggung amal Islami setelah mendapat siksaan fisik. Padahal, sebelumnya mereka termasuk orang-orang yang paling bersemangat. (QS Al-Ankabut: 1-3), (QS Muhammad: 31)

Allah swt. juga menjelaskan tipe-tipe manusia dalam menghadapi tribulasi. Di antara mereka ada yang teguh dan sabar karena mengharap pahala dari Allah (QS Ali Imran: 173), (QS Al-Ahzab: 22-23), dan di antara mereka juga ada yang lemah, tidak mampu bertahan, dan akhirnya gugur dan menghilang dari kancah pertarungan (QS Al-Ankabut: 10-11).

2.  Tekanan Keluarga

Salah satu tekanan yang dihadapi oleh para aktivis perjuangan Islam, dan terkadang mengakibatkan gugurnya sebagian dari mereka adalah keluarga dan kerabat: ayah, ibu, istri, anak dan lainnya. Sedikit sekali aktivis Muslim yang bisa terbebas dari tekanan keluarga. Sebab, secara umum keluarga mengkhawatirkan kalau anak-anak mereka tertimpa derita seperti yang sedang menimpa para da’i, mujahid (pejuang) dan para aktivis di sepanjang masa. (QS At-Taubah: 24), (QS Maryam: 41-46).

3.  Tekanan Lingkungan

Faktor lain yang menjadi penyebab bergugurannya sebagian aktivis dari pentas dakwah adalah tekanan lingkungan. Seorang muslim terkadang tumbuh dalam lingkungan yang komitmen terhadap Islam. Namun kemudian, karena studi atau pekerjaan berpindah ke lingkungan lain, di mana pengaruh-pengaruh negatif lebih banyak dan daya tarik jahiliyah lebih kuat, ia pun mudah terpengaruh. Di sinilah pertarungan mulai berkecamuk, mungkin ia mampu bertahan dan menang atau mungkin kalah dan terbawa arus.

Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang dapat dikalahkan oleh tekanan lingkungan sangat banyak. Antara lain,

Mungkin dasar pembinaannya tidak benar. Misalnya ia masih menyimpan keraguan dalam bidang aqidah atau menyembunyikan penyimpangan perilakunya.
Mungkin komitmen ketika berada di lingkungannya didorong rasa malu, taklid, dan ikut-ikutan, bukan berdasarkan kesadaran, kepahaman, dan keimanan. Karena itu, ketika berpindah ke lingkungan lain, pudarlah komitmennya bersamaan dengan hilangnya faktor-faktor yang membuatnya komitmen; rasa malu, taklid, dan ikut-ikutan.
Mungkin di lingkungan keduanya, ia meninggalkan dunia dakwah dan para aktivisnya, lalu  bergabung dengan lingkungan jahiliyah dan bergaul dengan teman-teman yang buruk. Sikap ini sangat berbahaya, membawa sial dan dapat mengakibatkan berguguran, bila tidak mendapat pertolongan dan pemeliharaan dari Allah swt.

4.  Tekanan Gerakan Destruktif

Gerakan-gerakan destruktif selalu ada pada setiap waktu dan tempat. Faktor yang bisa menjadikan para aktivis Islam berguguran di jalan dakwah ini, selalu muncul dan bekerja keras menebarkan keraguan. Ibarat palu godam yang dipersiapkan untuk menghantam gerakan Islam dan menghancurkannya dengan mengatasnamakan Islam.

5.  Tekanan dari Figuritas

Salah satu penyebab bergugurannya aktivis di jalan dakwah adalah figuritas dan segala kaitannya yang tercakup dalam penyakit ujub (bangga diri), ghurur (tertipu), terlalu mencintai diri sendiri, sombong dan egois. Penyakit inilah yang menyebabkan kebinasaan iblis yang membanggakan dosanya. (QS Al-A’raf: 12)


Wallahu ‘alam bishshawwab
Continue reading

Rabu, 05 Agustus 2015

MENURUT Hasan al-Banna dalam Al-ma’tsurat, Al-Mulk termasuk di antara surat-surat utama untuk dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. surat Al-Mulk disandingkan dengan surat-surat lainnya, seperi Yaasiin, Al-Kahfi, Ad-Duhkhan, Ali Imron dan Waqi’ah sebagai surat-surat yang hendaknya dibaca secara rutin.
Al-Mulk memiliki arti kuasa pemerintahan. Surat Al-Mulk merupakan surat ke-67 dalam Al-Qur’an dan terdiri dari 30 ayat. Surat ini termasuk surat makiyyah. Banyak hadits membahas keutamaan membaca surat ini bagi mukminin, antara lain:
“Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi Saw., beliau bersabda, ‘Ada surat-surat dari AL-Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat dan dapat memberi syafa’at bagi yang membacanya, sampai ia diampuni, yaitu, ‘Tabaarakalladzii biyadihil mulku.. (surat Al-Mulk)” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
Rasulullah sangat mencintai surat ini. Diriwayatkan Rasulullah sering membaca surat ini sebelum tidur karena keutamaannya. Dalam hadits lain, Nabi Muhammad Saw. juga dijelaskan:
“Ibnu Abbas, ia berkata, ‘Sebagian sahabat Nabi Saw. membuat kemah di atas pemakaman, ternyata ia tidak mengira jika berada di pemakaman, tiba-tiba ada seseorang membaca surat Tabaarakalladzii bi yadihil mulku (maha suci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan)’ sampai selesai. Kemudian, ia datang kepada Nabi Saw. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah Saw. sesungguhnya aku membuat kemahku di atas kuburan dan aku tidak mengira jika tempat tersebut adalah kuburan. Kemudian ada seseorang membaca surat Tabarak (AL-Mulk) sampai selesai, Rasulullah Saw. bersabda, ‘ia adalah penghalang. Ia adalah penyelamat yang menyelamatkannya dari siksa kubur.” (HR. Tirmidzi).
Dalam hadits tersebut, diriwayatkan bahwa salah satu keutamaan surat Al-Mulk adalah untuk mencegah pembacanya dari siksa kubur. Di masa sahabat, surat Al-Mulk disebut juga al-mani’ah, yaitu sang pencegah (dari siksa kubur). Barang siapa membacanya dengan ikhlas dan diterima oleh Allah Swt., maka ia akan terbebas dari siksa kubur.
Tentunya, sebagaimana disampaikan jumhur ulama, membaca surat al-mulk tidak hanya membacanya saja, tetapi juga merenungi artinya dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya. Dalam hadits yang lain Rasulullah Saw. bersabda:
“Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, ‘Barang siapa membaca ‘Tabaarakalladzii bi yadihil mulk (surat Al-Mulk) setiap malam, maka Allah akan menghalanginya dari siksa kubur. Kami di masa Rasulullah Saw. menamakan surat tersebut surat al-mani’ah (penghalang dari siksa kubur). Ia adalah salah satu surat di dalam kitabullah. Barang siapa membacanya setiap malam, maka ia telah memperbanyak an telah berbuat kebaikan.” (HR. Nasa’i)
Dalam musnad ‘lid bin Humaid dari Ibrahim bin Hakam dari bapaknya ikrimah dari Ibnu Abbas ra., dia berkata kepada seseorang, “Apakah kamu ingin aku bacakan hadits yang membuat kamu berbahagia?”
Orang itu menjawab, “Tentu.”
Lalu Ibnu Abbas berkata, “Bacalah surat Tabaarakalladzii bi yadihil mulku wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadir (Al-Mulk, hafalkan lalu ajarkanlah kepada keluargamu, anakmu orang-orang dalam rumahmu, dan tetanggamu. Sesungguhnya, surat tersebut memberi keselamatan dan syafa’at pada hari kiamat di hadapan Allah Swt. bagi orang yang membacanya. Surat ini akan memohon kepaa Allah Swt. agar menyelamatkannya dari azab neraka dan Allah akan menyelamatkan orang yang suka membacanya dari azab neraka.”
Nah, seperti itulah keutamaan dari surat Al-Mulk yang bisa diamalkan setiap muslim sebagai amalan sehari-sehari untuk menambah pahala dan amal baik. Semoga dengan mengetahuinya, kita bisa mengamalkannya dengan ikhlas dan mengharap Ridha Allah Swt. Aamiin.

Sumber: Gimana Kabarmu Setelah 7 Malam di Alam Kubur?/ Karya Syarif Hidayatullah/Penerbit Safira
Continue reading

     
   
  Cobalah tanya secara acak kepada mahasiswa muslim di kampus anda. Tak peduli dia kuliah di tahun pertama atau tahun yang kesekian di kampus tersebut. Tahukah dia siapa yang memegang amanah sebagai ketua lembaga dakwah kampusnya? Atau tanyakan apa saja departemen atau program kerja lembaga dakwah tersebut. Atau coba saja tanyakan kepanjangan dari nama lembaga dakwah di kampus tersebut (jika memang memakai singkatan). Penulis berani menjamin sebagian besar dari mereka tidak tahu, atau hanya tahu sedikit tentang lembaga dakwah tersebut. Hal itu seharusnya menjadi cambukan keras bagi para aktivis dakwah. Apakah itu salah mereka yang tak mau mengenal, ataukah kesalahan para aktivis dakwah yang tak mau membranding dirinya?
     Ketika dikembalikan pada konsepsi Islam yang rahmatan lil ‘alamin maka Islam adalah agama yang menaungi seluruh semesta alam. Bukan hanya rahmatan lil muslmin, namun juga rahmatan lil nasrani, lil yahudi, dan agama lainnnya. Bukan hanya rahmatan linnas tapi juga rahmatan lil jamal, lil asad, lil baqoroh, lizzahro, lissyajaroh, dan makhluk hidup lainnya. Dari konsepsi ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang menjadi tempat bernaung seluruh makhluk. Siapapun seharusnya merasa aman dan nyaman ketika ia berada di sekitar orang Islam, tidak merasa terasing sebab Islam telah menaungi mereka, tanpa memaksa mereka untuk mengikuti keyakinan sebagai pemeluk Islam.
       Demikian pula dalam konsepsi dakwah kampus. Dalam hal ini lembaga dakwah kampus seharusnya menjadi corong pergerakan mahasiswa muslim. Ia bukan saja menjadi corong, namun sudah seharusnya ia mampu menaungi seluruh mahasiswa di kampus tersebut. Iya ! benar, sekali lagi seluruh mahasiswa. Bukan hanya mahasiswa muslim saja, namun termasuk mahasiswa yang berkeyakinan lain. Namun, melihat realita saat ini, akankah konsepsi tersebut terwujud?
Mari kembali kepada studi kasus di atas. Jangankan mahasiswa yang beragama lain. Mahasiswa muslim sendiri saja tidak tahu siapa yang menjadi ketua lembaga dakwah tersebut, apa saja program kerjanya, terdapat departemen apa, dan lain sebagainya. Padahal seorang ketua lembaga dakwah, berarti ia dapat dianggap representasi mahasiswa muslim di kampus tersebut. Mahasiswa di kampus tersebut adalah objek dakwah yang empuk yang harus dinaungi dan diayomi. Sehingga lembaga dakwah bukan hanya milik orang-orang yang rajin ke masjid saja, bukan hanya milik orang-orang yang tertarik kepada keislaman saja. Namun milik semua orang yang memiliki identitas Islam, dan kebermanfaatannya mampu dirasakan oleh semua elemen kampus. Begitulah konsep ideal dari sebuah lembaga dakwah manakala ia inklusif, bukan eksklusif.
Lalu sekarang di manakah letak kesalahannya? Barangkali dalam setiap langkah dakwah seorang aktivis ia harus berkaca terlebih dahulu sebelum melihat sisi luar dari dirinya. Sudahkah ia mampu menjadi aktivis dakwah yang tak eksklusif? Masihkah dia sungkan untuk bergaul dengan saudaranya sendiri, sesama muslim yang hidupnya barangkali dihabiskan untuk bermaksiat, minum-minuman keras, berzina, dan lain sebagainya? Masihkah ia terkungkung di masjid saja, padahal di sekitarnya banyak objek dakwah yang menanti untuk didakwahi? Mari kita merefleksi diri.
Teruntuk para akhwat, cobalah bertanya pada teman-temanmu yang masih berpakaian jauh dari kata menutup aurat sedangkan ia seorang muslim.         Bahkan saya pernah mendengar langsung bahwa kebanyakan dari mereka takut. Takut ketika akan mendekati para aktivis lembaga dakwah yang berkerudung besar. Mereka bahkan ada yang menganggap jangan-jangan itu Islam garis keras, atau terlalu eksklusif. Lalu jika melihat banyaknya fenomena seperti itu, sudahkah anti sekalian mendekati mereka? Atau jangan-jangan anti terlalu sibuk dengan urusan dakwah yang mengesampingkan objek dakwah itu sendiri?
       Maka semoga ini bisa menjadi refleksi bagi dakwah kita. Dakwah dengan media lembaga dakwah kampus. Jangan sampai Islam yang inklusif justru menjadi eksklusif oleh lembaga dakwah kampus itu sendiri. Jangan sampai Islam yang universal dan kontekstual menjadi kaku dan seolah menyulitkan karena terlalu strictnya model dakwah oleh para aktivis LDK itu sendiri. Karena Islam sesungguhnya rahmatan lil alamin, maka begitulah seharusnya Lembaga Dakwah Kampus.

Continue reading

Sabtu, 01 Agustus 2015


“Menjalin kerukunan, menjamin keyakinan.” Itulah judul makalah yang saya sampaikan 

dalam acara dialog lintas agama dan Sosialisasi Peraturan-Peraturan Kerukunan Umat Beragama, yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Wilayah DKI Jakarta, Senin, 18/4/2011, di Cipayung Bogor.

Kepada para peserta, saya menekankan, bahwa meskipun terjadi sejumlah kasus dalam soal hubungan antar-umat beragama, dan juga internal umat beragama, sebenarnya secara umum, wajah kerukunan umat beragama di Indonesia tetaplah “cantik.” Kasus-kasus yang terjadi adalah ibarat “jerawat” di wajah yang cantik, yang perlu diselesaikan dengan baik; tetapi jangan sampai jerawat-jerawat it uterus-menerus dipelototi dan diekspose, untuk menutupi “wajah cantik” secara keseluruhan. Cara pandang semacam ini jelas tidak proporsional.
Sebagaimana pernah kita ungkapkan dalam CAP sebelumnya, pengungkapan kasus-kasus konflik antar umat beragama yang berlebih-lebihan, bukannya akan menyelesaikan masalah, tetapi justru memperparah kondisi. Film “?” karya Hanung Bramantyo yang diawali dengan penusukan seorang pastor di depan Gereja Katolik, seperti menggiring penonton untuk berimajinasi, kasus itu merupakan visualisasi kasus penusukan pendeta di Ciketing, Bekasi, beberapa waktu lalu. Adegan itu tentu saja berlebihan, meskipun tidak menyebutkan dengan jelas siapa pelakunya, sebab adegan itu dimunculkan bukan dalam “ruang yang kosong”.
Logikanya, umat beragama tentu menginginkan hidup rukun dan damai. Tetapi, harus diakui, dalam kehidupan antar manusia, potensi-potensi konflik itu pasti selalu ada. Dalam kehidupan suami-istri yang seagama saja, banyak potensi terjadinya konflik. Hidup manusia tidak ada yang sepi dari konflik. Manusia bukan Malaikat. Apalagi dalam hubungan antar-agama, dimana masing-masing memiliki keyakinan yang berbeda.
Konflik yang lebih keras juga sering terjadi dalam kehidupan internal umat beragama. Di kalangan umat Islam, ada kelompok yang mengkafirkan orang lain yang berada di luar kelompoknya. Dalam beberapa hari terakhir, ada beberapa orang yang bertanya kepada saya tentang kelompok NII (Negara Islam Indonesia). Seorang Ibu bercerita, seorang temannya mengajaknya untuk “bersyahadat ulang”, karena syahadat yang sudah dilafalkannya sehari-hari, dianggap belum sah. Si Ibu masih diharuskan melafalkan syahadat di depan seorang imam.
Ajaran seperti ini mengingatkan saya pada suatu kisah di tahun 1980-an, saat masih kuliah di IPB. Suatu ketika, teman serumah, membawa seorang Ustad ke rumah kos. Sang Ustad menjelaskan, bahwa selama ini syahadat saya tidak sah, karena belum disaksikan. Dia membacakan sejumlah ayat al-Quran tentang persaksian, seperti “Isyhaduu bi-anna muslimuun.”
Saya tanya, ayat mana yang menunjukkan bahwa “syahadat ulang di depan imam itu hukumnya wajib?” Sedangkan beberapa ayat al-Quran yang secara tegas berbentuk perintah (fi’il amar) dari Allah, jatuhnya justru mubah; bukan wajib. Misalnya, ayat “faidzaa qudhiyatish-shalaatu fan-tashiruu fil-ardhi”; (“jika setelah ditunaikan shalat Jumat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi”).
Saya katakan pada Sang Ustad, jika perintah yang jelas saja, bisa jatuh mubah hukumnya, bagaimana dengan status hukum suatu tindakan yang tidak jelas-jelas diperintahkan dalam al-Quran dan Sunnah, seperti hukum melafalkan “syahadat ulang”? Tampaknya Sang Ustad belum belajar atau tidak mau menggunakan Ilmu Ushul Fiqih dalam menentukan status hukum suatu perbuatan. Metode istinbath Sang Ustad adalah buatan kelompoknya sendiri.
Ujungnya, diskusi itu berakhir tanpa hasil. Sang Ustad pergi berlalu. Sejak itulah, saya semakin yakin, pentingnya kalangan mahasiswa Islam memahami berbagai macam Ulumuddin (Bahasa Arab, Ilmu Tafsir, Ilmu Ushul Fiqih, dan sebagainya), agar tidak mudah menafsir-nafsirkan al-Quran secara sembarangan.
Konflik-konflik internal umat beragama juga terjadi di dalam Kristen, Hindu, Budha, dan sebagainya. Perbedaan dan konflik adalah bagian dari hidup manusia. Karena itu, untuk mewujudkan kerukunan, bukan berarti harus menghilangkan perbedaan. Termasuk dalam soal klaim kebenaran. Kerukunan justru menjadi indah, tatkala terwujud di tengah-tengah berbagai perbedaan.
Kerukunan umat beragama, baik intern atau antar umat beragama, adalah kondisi ideal yang diinginkan setiap umat beragama. Satu hal yang penting dicatat dalam soal pembangunan kerukunan umat beragama adalah, bahwa upaya mewujudkan kerukunan umat beragama, tidak boleh dilakukan dengan cara mengorbankan keyakinan masing-masing agama. Sebab, agama-agama itu ada berdiri di atas keyakinannya masing-masing. Dalam istilah sekarang: masing-masing agama memiliki truth claim (klaim kebenaran) masing-masing.
Islam memiliki ajaran-ajaran pokok yang berpijak atas dasar syahadat: “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.” Islam mengakui Allah, sebagai satu-satunya Tuhan. Dan Muhammad adalah utusan Allah. Dalam Islam, Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir. Beliau (saw) mendapatkan wahyu yang kemudian terhimpun dalam al-Quran.
“Islam adalah bahwasanya engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah -- jika engkau berkemampuan melaksanakannya.” (HR Muslim).
"Sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam." (QS 3:19). "Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan akan diterima dan di akhirat nanti akan termasuk orang-orang yang merugi." (QS 3:85).

Inilah keyakinan Islam. Keyakinan yang khas semacam ini juga ada pada agama lain. Kaum Kristen juga memiliki apa yang mereka juga sebut sebagai “syahadat” (Nicene Creed), yang dirumuskan tahun 325 M: “Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa…” (Norman P. Tanner, Konsili-konsili Gereja).
Kaum Kristen yakin bahwa Yesus mati di tiang salib. Yesus adalah salah satu dari “Tiga Oknum” dalam Trinitas. Ini sangat berbeda dengan konsep Islam yang menyatakan bahwa Isa a.s. adalah utusan Allah. Al-Quran menjelaskan: “Dan ingatlah ketika Isa Ibn Maryam berkata, wahai Bani Israil sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada padaku, yaitu Taurat, dan menyampaikan kabar gembira akan datangnya seorang Rasul yang bernama Ahmad (Muhammad).” (QS 61:6).
Paus Yohanes Paulus II menyatakan: ” Islam bukanlah agama penyelamatan (Islam is not a religion of redemption). Dalam Islam, kata Paus, tidak ada ruang untuk salib dan kebangkitan Yesus. Yesus memang disebut, tetapi hanya sebagai nabi yang mempersiapkan kedatangan Nabi terakhir. Karena itulah, simpul Paus, bukan hanya dalam teologi, tetapi dalam antropologi, Islam sangat berbeda dengan Kristen. (not only the theology but also the anthropology of Islam is very distant from Christianity). Dan tentang al-Quran, Paus menyebutkan, bahwa siapa pun yang membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan kemudian membaca al-Quran, maka akan menemukan bahwa Kitab ini (al-Quran) mereduksi kedua Kitab itu.” (“Crossing The Threshold of Hope” (New York: Alfred A. Knopf, 1994).
Tahun 2006, Penerbit Media Hindu, menerbitkan buku berjudul Hindu Agama Terbesar di Dunia, yang membuat pernyataan tegas tentang keunggulan agama Hindu (hal.xi-xii):
“Agama Hindu melayani keperluan setiap orang. Ialah satu-satunya yang memiliki keluasan dan kedalaman seperti itu. Agama Hindu mengandung Dewa-dewa, Pura-Pura yang suci, pengetahuan esoteric dari inti kesadaran, yoga dan disiplin meditasi. Ia memiliki kasih yang tulus dan toleransi dan apresiasi yang murni terhadap agama-agama lain. Ia tidak dogmatik dan terbuka untuk diuji….Dan ingat Hindu bukanlah agama missi yang agresif seperti Kristen atau Islam…”


Jadi, klaim-klaim yang khas pada tiap-tiap agama adalah sesuatu yang wajar, sehingga tidak mungkin dihilangkan. Upaya untuk menghapus truth claim pada tiap agama, untuk membangun satu teologi bersama yang membenarkan semua teologi agama, dikenal sebagai konsep “Teologi Abu-abu” (Pluralisme Agama). Dr. Stevri Lumintang, seorang pendeta Kristen di Malang, dalam bukunya, Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini, (Malang: Gandum Mas, 2004), menulis, bahwa Teologi Abu-Abu adalah posisi teologi kaum pluralis ; bahwa teologi ini sedang meracuni, baik agama Kristen, maupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang semua unsur-unsur absolut yang diklaim oleh masing-masing agama.

Ditegaskan dalam buku ini: ‘’Inti Teologi Abu-Abu (Pluralisme) merupakan penyangkalan terhadap intisari atau jatidiri semua agama yang ada. Karena, perjuangan mereka membangun Teologi Abu-Abu atau teologi agama-agama, harus dimulai dari usaha untuk menghancurkan batu sandungan yang menghalangi perwujudan teologi mereka. Batu sandungan utama yang harus mereka hancurkan atau paling tidak yang harus digulingkan ialah klaim kabsolutan dan kefinalitas(an) kebenaran yang ada di masing-masing agama.’’
Demikianlah, kerukunan umat beragama, tidak mungkin dibangun di atas konsep menghapus klaim kebenaran pada tiap-tiap agama. Biarlah keyakinan masing-masing tetap terjamin, sementara kerukunan harus terjalin. Justru itulah hakekat “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda keyakinan tetapi tetap merrupakan satu bangsa. Menghormati keyakinan masing-masing bukan berarti mencampuradukkan atau merusak keyakinan agama-agama.
Justru, kerukunan akan terasa lebih indah dan bermakna, saat kerukunan itu terwujud di atas perbedaan klaim-klaim kebenaran. Klaim terhadap kebenaran pada masing-masing agama perlu dihormati, dan tidak bisa dipaksa untuk dihapuskan. Islam melarang umatnya untuk memaksa orang lain memeluk Islam, sebab telah jelas, mana yang haq dan mana yang bahil.
Kristenisasi dan Islamisasi
Tidak dapat dipungkiri, ada dua isu sentral yang menjadi “wacana panas” dalam soal kerukunan umat beragama di Indonesia, khususnya antara umat Islam dan kaum Kristen. Masalah ini sebaiknya dibicarakan secara fair dan terbuka agar tercapai satu kesepakatan bersama. Tentu sangatlah tidak mudah memecahkan masalah ini. Pada tahun 1969, acara Musyawarah antar Umat Beragama, juga gagal menyepakati satu Piagam Kerukunan tentang masalah penyebaran agama.

Bagi kaum Kristen, misi Kristen dipandang sebagai satu kewajiban asasi. Tokoh Protestan, Dr. AA Yewangoe, menegaskan: “Agama tanpa misi bukanlah agama… Tanpa misi, gereja bukan lagi gereja.” (Suara Pembaruan, 26/12/2005). Dalam buku “Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini” (1964), tokoh Kristen Indonesia, Dr. W.B. Sidjabat, menulis bab khusus tentang tantangan Islam bagi misi Kristen di Indonesia: “Pekabaran Indjil di Indonesia, kalau demikian, masih akan terus menghadapi “challenge” Islam dinegara gugusan ini… W.B. Sidjabat, Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini, (Badan Penerbit Kristen, 1964), hal. 133-135.
Dalam ‘Dokumen Keesaan Gereja-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (DKG-PGI) yang diputuskan dalam Sidang Raya XIV PGI di Wisma Kinasih, 29 November-5 Desember 2004, pada bagian ‘’Bab IV : Bersaksi dan Memberitakan Injil Kepada Segala Makhluk’’, menegaskan: “Gereja Harus Memberitakan Injil Kepada Segala Makhluk”. Disebutkan dalam bagian ini : ‘’Gereja-gereja di Indonesia menegaskan bahwa Injil adalah Berita Kesukaan yang utuh dan menyeluruh, untuk segala makhluk, manusia dan alam lingkungan hidupnya serta keutuhannya : bahwa Injil yang seutuhnya diberitakan kepada manusia yang seutuhnya... ‘’
Misi Katolik. Tahun 1990, induk Gereja Katolik di Indonesia, yaitu KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) menerjemahkan dan menerbitkan naskah imbauan apostolik Paus Paulus VI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern (Evangelii Nuntiandi), yang disampaikan pada 8 Desember 1975. Di dalam dokumen ini disebutkan:
“Pewartaan pertama juga ditujukan kepada bagian besar umat manusia yang memeluk agama-agama bukan Kristen….Agama-agama bukan kristen semuanya penuh dengan “benih-benih Sabda” yang tak terbilang jumlahnya dan dapat merupakan suatu “persiapan bagi Injil” yang benar... Kami mau menunjukkan, lebih-lebih pada zaman sekarang ini, bahwa baik penghormatan maupun penghargaan terhadap agama-agama tadi, demikian pula kompleksnya masalah-masalah yang muncul, bukan sebagai suatu alasan bagi Gereja untuk tidak mewartakan Yesus Kristus kepada orang-orang bukan Kristen. Sebaliknya Gereja berpendapat bahwa orang-orang tadi berhak mengetahui kekayaan misteri Kristus.”

Dalam pidatonya pada 7 Desember 1990, yang diberi judul Redemptoris Missio (Tugas Perutusan Sang Penebus), yang juga diterbitkan KWI tahun 2003, Paus Yohanes Paulus II mengatakan:
“Tugas perutusan Kristus Sang Penebus, yang dipercayakan kepada Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaian. Tatkala Masa Seribu Tahun Kedua sesudah kedatangan Kristus hampir berakhir, satu pandangan menyeluruh atas umat manusia memperlihatkan bahwa tugas perutusan ini masih saja di tahap awal, dan bahwa kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati…Kegiatan misioner yang secara khusus ditujukan “kepada para bangsa” (ad gentes) tampak sedang menyurut, dan kecenderungan ini tentu saja tidak sejalan dengan petunjuk-petunjuk Konsili dan dengan pernyataan-pernyataan Magisterium sesudahnya. Kesulitan-kesulitan baik yang datang dari dalam maupun yang datang dari luar, telah memperlemah daya dorong karya misioner Gereja kepada orang-orang non-Kristen, suatu kenyataan yang mestinya membangkitkan kepedulian di antara semua orang yang percaya kepada Kristus. Sebab dalam sejarah Gereja, gerakan misioner selalu sudah merupakan tanda kehidupan, persis sebagaimana juga kemerosotannya merupakan tanda krisis iman.”

Jadi, bagi kaum Kristen, menjalankan misi Kristen adalah satu kewajiban asasi yang menurut mereka wajib ditunaikan. Hal yang senada juga ada pada ajaran dakwah dalam Islam. Umat Islam wajib berdakwah, menyeru muslim dan non-Muslim untuk berpegang kepada kebenaran. (QS 3:104). Nabi Muhammad saw juga sangat aktif dalam berdakwah kepada non-Muslim, mengajak mereka untuk kembali kepada Tauhid, yakni hanya menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan Allah dengan yang lain (QS 3:64).
Nabi Muhammad saw pernah berkirim surat kepada Heraclius (Kaisar Romawi), yang isinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasul Allah untuk Heraclius Kaisar Romawi yang agung. Keselamatan bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Selain itu, sesungguhnya aku mengajak Tuan untuk masuk Islam. Masuklah Tuan ke dalam Islam, maka Tuan akan selamat dan hendaklah Tuan memeluk Islam, maka Allah memberikan pahala bagi Tuan dua kali dan jika Tuan berpaling, maka Tuan akan menanggung dosa orang orang Romawi.”
Jadi, bisa dikatakan, adalah bisa dimengerti jika orang Kristen berusaha melakukan Kristenisasi dan orang Muslim melakukan Islamisasi. Dalam konteks seperti inilah, untuk mewujudkan kerukunan antar umat beragama di Indonesia, maka diperlukan sikap saling memahami dan adanya kesepakatan akan satu tata aturan main atau kode-etik dalam penyebaran agama, agar tidak terjadi benturan yang merusak kerukunan umat beragama. Kesepakatan dan kesepahaman ini membutuhkan dialog yang terus-menerus, sebab masalah penyiaran agama ini merupakan hal yang sensitif.
Kristenisasi, misalnya, bukan hanya sangat sensitif bagi orang Muslim, tetapi juga bagi umat agama lain. Tokoh Hindu India, Mahatma Gandhi, juga dikenal sangat kritis terhadap gerakan misi Kristen di India. Pada bulan April 1931, dia pernah melontarkan komentar soal misi asing di India: “If instead of confining themselves purely to humanitarian work and material service to the poor they limit their activities, as at present, to proselytising by means of medical aid, education, etc. then I would certainly ask them to withdraw. Every nation’s religion is as good as any other’s. Certainly India’s religions are adequate for her people. We need no converting spirituality.” (John C.B. Webster, ‘Gandhi and the Christians: Dialogue in the Nationalist Era’, in Harold Coward (ed.), Hindu-Christian Dialogue: Perspectives and Encounters, (New York: Orbis Book, 1989), hal. 80-88).
Jadi, kerukunan umat beragama memang membutuhkan usaha yang serius. Perbedaan antar agama tidak mungkin dihapuskan, sebab agama-agama itu ada memang karena adanya klaim atas kebenaran masing-masing. Kerukunan umat beragama bisa tetap terjalin, dengan tanpa mengorbankan keyakinan masing-masing. Justru, itulah indahnya sebuah kerukunan. Berbeda-beda tetapi tetapi rukun jua. (Depok, 27 Mei 2011).

Sekedar penyambung lidah , sumber dari fanspage Dr. Adian Husaini.
Continue reading

Minggu, 08 Februari 2015

                Pembantaian Meluas, Kafir Buddha Bakar Hidup-hidup Muslim Burma

بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

   Selebaran Anti-Islam dan pamflet Anti-Islam telah disebarkan di seluruh Burma sejak eskalasi kekerasan di Arakan dimulai pada bulan Juni tahun lalu (2012). Selama rentang waktu dari tanggal 20 Maret 2013 – 28 Maret 2013, sebanyak 28 masjid telah dibakar dan ribuan rumah dihancurkan oleh kaum kafir Buddha. Tanpa terkecuali, kekerasan dilakukan secara besar-besaran oleh masyarakat Buddha terhadap keluarga Muslim dan komunitasnya, termasuk anak-anak dan bayi mereka.
Serangan dimulai di daerah Meikhtila, yang merupakan tempat komunitas Muslim telah lama tinggal dan mentap,  kemudian kerusuhan menyebar ke kota-kota lain di divisi Mandalay dan divisi Pegu Barat. Sebanyak 13 kota telah diserang, masjid-masjid dan harta benda kaum Muslimin telah dihancurkan; dan sebanyak 13.000 orang terpaksa mengungsi dari Meikhtila. Perlu diingat saudara-saudari Muslim tercinta, provinsi Mandalay berada jauh dari Arakan dan merupakan salah satu titik pusat Burma.
Saudara-saudari Muslim tercinta, ini bukanlah konflik masyarakat atau konflik sektarian antara Buddha yang mayoritas dengan Muslim yang minoritas: ini adalah rangkaian ketidakadilan, serangan keji lagi mematikan yang menargetkan harta benda dan perniagaan kaum Muslimin ini, terjadi di bawah kendali  Negara.
Para pejabat negara Burma beserta warga sipil Buddha bergabung melakukan pengusiran terhadap warga Muslim (Muslim Rohingya, Muslim Kaman dan Muslim Burma) di seluruh Burma dengan taktik dan metode rahasia yang berbeda-beda; pembunuhan massal, penembakan terbuka, memperkosa para wanita, menjarah harta benda dan uang, penangkapan yang semena-mena, pembakaran rumah-rumah, membakar hidup-hidup para guru dan siswa, pembakaran terhadap  Al-Qur’an yang mulia, masjid-masjid serta madrasah-madrasah melalui berbagai peristiwa rekayasa yang perlahan-lahan semakin serampangan.
[Foto Sebagian Kaum Muslimin yang Dibakar]
Sekarang, kami ingin berbagi dengan kalian apa yang dialami oleh kaum Muslimin Burma dalam beberapa hari terakhir ini: 
  • Di kota Meikhtila, Divisi Mandalay, serangan dan kerusuhan anti Muslim menyebabkan kerusakan ratusan bangunan dan rumah, kendaraan dan sepeda motor, serta masjid-masjid. Orang-orang dipukuli secara brutal, diserang dengan parang dan dibakar dijalan-jalan. Diperkirakan sebanyak 50 orang meninggal akibat insiden ini.
[Foto Sebagian Kaum Muslimin yang Dibakar]
 [Masjid dibakar di Divisi Madalay - Burma]
  • Pembunuhan terhadap 28 anak dan 4 guru yang diambil dari sebuah madrasah pada tanggal 21 Maret. Pasukan keamaan di daerah tersebut tidak melindungi madrasah ini, meskipun sudah ada permintaan dari organisasi-organisasi Islam di sana. Saat ini, terdapat sekitar 13.000 pengungsi di daerah tersebut, banyak dari mereka yang mencari perlindungan di kamp-kamp Meikhtila. Sementara itu, para pengungsi dibiarkan tanpa adanya jaringan komunikasi, mereka juga kehabisan makanan dan air.
 [Beberapa kaum Muslimin berkumpul di kamp dengan rasa takut]
Saudara-saudari Muslim tercinta, sekarang kami akan menceritakan pada kalian beberapa insiden pada episode pembantaian ini.
Insiden 1:
Di antara rumah-rumah dan bangunan yang dibakar itu, adalah Madrasah Hamayatul Islam yang merupakan Madrasah terbesar yang berada di desa Mingalar Zayyu. Para ekstrimis Buddha sepanjang malam merasa bebas untuk melakukan pembunuhan massal, menyerang kaum Muslimin dan membakar rumah-rumah mereka,  dengan berdasarkan pada hukum Marshal-144, maka kaum Muslimin tidak diperbolehkan keluar sementara di situ tidak ada penghalang dari tentara dan pasukan keamanan terhadap kaum Buddha rasis.
Pada pukul 3 dini hari, seorang penganut Buddha yang baik yang tinggal berdekatan dengan Madrasah memanggil dan membawa semua guru dan siswa Muslim ke rumahnya untuk menyelamatkan jiwa mereka. Kemudian pada pukul 4 dini hari Madrasah tersebut dibakar menjadi abu oleh para Buddha rasis.
 
 [Foto sebagian Umat Muslim yang dibakar di Burma]
Sekitar pukul 6 pagi, sekelompok ekstrimis Buddha mengepung rumah milik orang Buddha yang baiki tu yang telah menyelamatkan para siswa dan guru Muslim, dirumah itu mereka sedang tertidur dengan rasa takut dan kelelahan. Para ekstrimis meminta pemilik rumah agar mengeluarkan seluruh kaum Muslimin, sambil menodongkan panah besi, pedang, pisau, batang besi, bambu runcing dan tongkat kayu. Orang Buddha yang baik itu meminta agar mereka tidak menyerang orang-orang Muslim tersebut karena kebanyakan dari mereka hanyalah anak yatim piatu dan datang dari jauh untuk mendapatkan pendidikan agama dan bukan untuk hal lain. Para teroris Buddha itu tidak peduli, lalu kemudian membakar rumah tersebut untuk mengeluarkan seluruh guru dan siswa-siswa Muslim didalamnya.
 [Foto Penghancuran perkampuan Muslim di Burma]
 [Foto Penghancuran perkampuan Muslim di Burma]
[Seorang Muslim dibakar di jalanan Burma]
Insiden 2 :
Ini informasi berasal dari sumber terpercaya di Matella, toko-toko Muslim dari gudang perhiasan bagian timur telah dihancurkan oleh kerumunan Buddha dan mereka mengajak para jema’at Buddha lainnya untuk memulai konflik agama. Penyebab awal kerusuhan tersebut adalah karena sengketa antara penjual dan pembeli emas.
 [Foto Penghancuran toko milik Muslim di Burma]
Rincian penyebab kerusuhan: Seorang gadis Buddha datang ke toko emas milik seorang Muslim dan berselisih dengan keponakan pemilik toko tersebut, karena gadis Buddha itu berusaha menjual emas imitasi dan kemudian dia kembali ke rumahnya, tetapi gadis tersebut malah datang kembali bersama dengan penduduk desanya untuk berselisih, kemudian urusan tersebut diselesaikan dengan cepat.
Tidak berapa lama kemudian, penduduk desa dari gadis tersebut menghancurkan toko emas dan toko-toko lainnya milik kaum Muslimin dan segera setelah itu polisi lokal, polisi lalu lintas dan pemadam kebakaran membubarkan kerumunan orang-orang Buddha tersebut.
 
[Foto Penghancuran toko milik Muslim di Burma]
Sesungguhnya dalam kejadian yang mengerikan ini, kaum rasis Buddha dipimpin oleh seorang mentor Virathu Buddha keji dari Myanmar tengah, divisi Mandalay, bersama dengan beberapa anggota NLD yang selalu menghasut Islamphobia di seluruh Burma, merekalah yang menyebabkan terjadinya kerusuhan ini.
[Foto Penghancuran Madrasah di Burma]
Insiden 3 :
Pada tanggal 2 April 2013, sekitar pukul 02.45 dini hari, Madrasah Swardikiyah dibakar, dan 13 orang siswa terbakar hidup-hidup di dalamnya, di jalan no. 48 kota pelabuhan Botataung, Yangon. Tapi pemerintah dengan cepat mengumumkan bahwa kebakaran tersebut berasal dari kabel listrik yang rusak di Masjid, padahal saksi mata melihat orang-orang melempar bom bensin ke dalam gedung.
 [13 siswa dibakar hidup-hidup di Madrasah ini]
 [Muslim Burma berdoa kepada Allah agar menghentikan pembantaian ini]
Madrasah ini tidaklah menyimpan barang-barang yang mudah terbakar seperti bensin atau pun minyak tanah. Mayat-mayat yang terbakar itu ditemukan berada di satu tempat. Salah satunya tidak terbakar sama sekali, tetapi dia juga ikut tewas, dan kelihatannya mereka sedang tertidur di kasur saat kejadian.
Pihak berwewenang mengatakan bahwa kebakaran berasal dari konsleting  listrik, akan tetapi orang-orang di sekitar sekolah mendengar suara benturan keras dua jam sebelum kebakaran.
Mereka tidak mempedulikan dari mana datangnya suara tersebut karena mereka sedang tertidur. Mayat-mayat yang terbakar tersebut kemudian dibawa ke rumah sakit jenazah, sedangkan para siswa yang selamat ditempatkan di sebuah kamp. Ini bukanlah konsleting, melainkan kebakaran yang disengaja sebagaimana yang dikatakan oleh seorang warga dari area kebakaran tersebut.
 
 [Foto Pembakaran Perkampungan Muslim]
 [Foto Pembantai Muslim di Burma]
Laporan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Burma tengah, kota Meikhtila, masih terus bermunculan, tetapi para pengungsi (IDPs) telah mulai berbicara keluar dan menyampaikan kepada dunia apa yang mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri.
Saudara-saudari tercinta, sekarang akan kami membagi kalian kisah nyata yang berasal dari sumber terpercaya.
“Mereka memukulnya di depan saya. Saya melihatnya. Saya masih bisa melihatnya,” Noor Bi menangis saat dia menggambarkan bagaimana suami dan saudaranya dibunuh di depan matanya ketika dia melarikan diri dari Meikhtila.
Jumlah mereka melebihi jumlah polisi, sehingga polisi tidak dapat melindungi minoritas Muslim di kota itu. Wanita berusia 26 tahun ini sekarang telah menjadi janda memiliki seorang anak berumur 3 tahun.
Saat ia menceritakan kisahnya dan apa yang ia saksikan, orang-orang di sekitarnya yang berada di kamp pengungsian sementara di Madrasah Yindaw –sekitar 10 mil sebelah selatan Meikhtila— mulai menangis. Orang-orang tua terisak saat mendengar penderitaannya.
“Mereka memukul dan terus memukulnya, suami dan saudaraku masih hidup saat mereka membakarnya. Mereka dibakar hidup-hidup,” air matanya mengalir saat dia meneruskan kisahnya.
“Setelah mereka selesai, mereka menyuruh kami bersujud kepada mereka. Kami terus bersujud ke Mekah, akan tetapi mereka mulai memukul kami,” Noor menghentikan sejenak ceritanya dan nampaknya dia enggan memberitahu penderitaan dia selanjutnya.
“Polisi meminta para biksu dan orang-orang agar berhenti memukuli kami dan meyakinkan mereka bahwa kami akan bersujud kepada para biksu tersebut,” Orang-orang yang mendengarkan ceritanya dengan jelas menunjukkan rasa murka mereka atas apa yang dia gambarkan.
“Mereka membuat kami terpaksa menyembah mereka. Itulah sebabnya kenapa kami masih bisa hidup saat itu,” dia menundukkan matanya, menghindari kontak mata dengan saya atau dengan yang lainnya.
Tidak ada yang menyalahkan dia; orang-orang Muslim hanya bersujud pada Allah dalam setiap sholat, tetapi ini terkait hidup dan mati, dan para pengungsi di sekitar dia, baik laki-laki maupun perempuan, muda maupun tua, dan semua Muslim, memahami hal ini lebih dari siapapun. 
Para biksu yang meminta untuk disembah itu masih berusia muda. Noor Bi bahkan dipukuli ketika dia tengah menggendong anaknya yang berumur 3 tahun sehingga anaknya terjatuh. Kemudian anaknya diselamatkan oleh seorang wanita Buddha yang kemudian melindunginya dan membawanya ke tempat yang aman.
Sebanyak 15 orang wanita dinaikkan ke truk dan dibawa ke kantor polisi. Polisi meminta mereka untuk tetap tenang, sementara mereka ingin kembali lagi dan menyelamatkan yang lain.
Noor Bi tidaklah sendirian. Muhammad yang berumur 16 tahun (namanya diganti demi keselamatan) juga menyaksikan teman-temannya dibunuh di depan matanya.
Kekerasan dimulai pada tanggal 20 Maret setelah perselisihan di toko emas yang menyebabkan serangan masal ke minoritas Muslim di Meikhtila.
Muhammad dan teman-temannya bersembunyi ketika para biksu Buddha membakar asrama sekolah mereka. Keesokan harinya pada pukul 09.30 pagi, polisi tiba dengan tiga truk untuk membawa para siswa ke tempat yang aman.
Muhammad dan para siswa diminta oleh polisi untuk naik ke atas truk petugas. Tapi tersisa satu masalah; mereka harus sampai ke truk sementara kerumunan orang-orang Buddha berdiri di antara mereka dengan jalan menuju ke truk.
“Saya merasa sakit saat terakhir mengingatnya,” matanya terlihat lelah, dia bilang bahwa dia tidak bisa tidur dan bermimpi buruk malam itu. “Orang-orang Buddha menghalangi jalan kami, meski ada pengawalan polisi di sana. Kami terus mencoba berjalan, jumlah polisi tidak cukup untuk melindungi kami,” matanya penuh dengan kepedihan.
“Kami harus meletakkan kedua tangan di atas kepala kami dan menundukkan kepala seraya memberi hormat ke para biksu saat kami berjalan.” Muhammad mengangkat kedua tangannya di atas kepala dan menggabungkan kedua telapak tangannya untuk menggambarkan apa yang mereka terpaksa lakukan.“Mereka mulai menyerang kami, dan saya melihat teman-teman saya dibunuh.”
“Mereka menyeret Abu Bakr ketika dia berusaha naik truk, kemudian mulai memukulinya, dan dia masih hidup saat mereka melemparkannya ke api. Ia kembali berdiri, kemudian mereka menusuk perutnya dengan pedang, mereka memutar pedangnya padahal pedang itu masih tertancap di tubuhnya,” dia mengambil nafas dalam-dalam, kedua tangannya menegang dan saling menggenggam.
“Saya masih bisa melihat dan mendengarnya.” Keluarga Muhammad berdiri di sekitarnya mencoba memberinya dukungan, pamannya menggosokkan tangannya ke punggungnya, berusaha meringankan penderitaan anak muda ini agar bertahan. Muhammad menceritakan bahwa di antara orang-orang Buddha tersebut terdapat wajah-wajah baru;  mereka memiliki rambut merah yang panjang.
Seratus orang mulai berjalan menuju truk-truk polisi. Tapi, 25 siswa dan 4 guru telah dibunuh, dipukuli, ditusuk dan dibakar hidup-hidup. Tujuh puluh satu orang berhasil selamat, akan tetapi secara mental mereka takut untuk hidup. Masih ada banyak gambar dan saksi mata lain yang menguatkan kisah ini.
 [Beberapa kafir Buddha berdiri memegang senjata]
 [Beberapa kafir Buddha berdiri dengan senjata]
Kekerasan di Meikhtila memicu kekerasan anti Muslim di seluruh Burma tengah, menyebabkan tersebarnya penghancuran rumah-rumah, masjid-masjid dan toko-toko.
Selama musim panas tahun 2012, dunia telah menyaksikan orang-orang Rakhine mengobarkan api kebencian untuk mengusir Muslim Rohingya dari tempat mereka.
Sekarang kita menyaksikan kaum radikal beraksi sekali kembali. Blokade-blokade sedang diperkuat agar Muslim Rohingya tetap berada di desa-desa mereka dan di kamp-kamp konsentrasi. Kehadiran polisi sedang dibangun dengan kuat melebihi kekuatan aslinya. Kehadiran militer ada di mana-mana sebagai tentara Thein Sein yang bersiap untuk mendukung kaum Rakhine dalam rencana pembantaian mereka yang sudah tergambar di ufuk.
Di Maungdaw, Negara bagian Arakan, Nasaka (polisi perbatasan) menyerukan agar semua warga Rohingya menghadiri kuliah umum terkait aturan baru yang akan mereka berlakukan secara paksa.
Dalam pertemuan dengan para pemimpin desa dan tokoh masyarakat Rohingya ini, Nasaka memberi tuntutan yang lebih keras dibanding sebelumnya. Sekarang, Muslim Rohingya dilarang keluar rumah dari jam 10 malam sampai jam 6 pagi. Muslim Rohingya tidak diizinkan keluar tapal batas desa-desa mereka. Para petani harus meminta izin untuk meninggalkan desa ketika mereka pergi ke sawah. Mengunjungi anggota keluarga harus didokumentasikan dan dilaporkan ke penjaga Nasaka. Dan siapapun yang tertangkap melanggar peraturan tersebut akan diambil untuk di hukum pada kantor Garda Nasaka .
Yang lebih penting lagi, setiap rumah yang hancur yang tidak diberikan izin oleh Nasaka juga akan dihukum secara ekstrem oleh militer atau polisi. Penting diingat bahwa Nasaka tidak peduli bagaimana rumah tersebut hancur. Mereka hanya mencari alasan untuk digunakan saat menyerang Muslim Rohingya dan memasukkan mereka ke penjara-penjara dan rumah-rumah penyiksaan. Tidak peduli apakah rumah tersebut dihancurkan oleh Rakhine atau tidak, Muslim Rohingya-lah yang harus membayar ganti ruginya.
Penting diingat juga bahwa kehadiran polisi baru di daerah tersebut bukanlah untuk melindungi Muslim Rohingya melainkan untuk membela orang Rakhine. Karena undang-undang baru tersebut tidak berlaku untuk orang Rakhine. Maksud mereka hanya supaya Muslim Rohingya tetap berada di satu tempat di mana mereka akan mudah diserang dan dibunuh ketika orang Rakhine bergerak. Hal ini merupakan langkah terencana untuk menyiapkan daerah Maungdaw sebagai gelombang pembersihan etnis selanjutnya.
Situasi Terkini Muslim Rohingya yang tinggal di kamp pengungsi di Bangladesh
Kamp Pengungsian Rohingya di Bangladesh menjadi tempat yang menyedihkan untuk dihuni. Para pengungsi terjebak dalam situasi yang sangat sulit, setelah meninggalkan rumah-rumah mereka, kemudian mereka harus hidup di salah satu tempat yang paling miskin di dunia dengan penduduknya yang sangat padat. Mereka hidup di kamp-kamp di mana mereka tidak di izinkan untuk bekerja, memiliki sedikit pilihan, sedikit sumber daya dan sedikit harapan.
Mendapatkan akses untuk mem-photo kamp-kamp pengungsian Rohingya hampir mustahil bisa dilakukan. Pemerintah Murtad Bangladesh tidak memiliki ketertarikan agar kisah-kisah Muslim Rohingya terpublikasikan dan tidak pula memberi akses bagi para wartawan.
Puluhan ribu orang terjebak dalam keterlantaran, tidak dapat bergerak maju ataupun mundur kembali. Mereka bisa meninggal karena penyakit, kekurangan gizi, umur yang tua, kelahiran, dan saya membayangkan sebagian dari mereka meninggal karena keputus asaan. Mereka terjebak… Dan berharap belahan Muslim di belahan dunia lain mulai memperhatikan mereka.
Disini kami menyeru kepada seluruh umat Islam di dunia, dibelahan bumi barat dan timur, untuk memberi perhatian dan pertolongan kepada saudara-saudara mereka di Burma. Sungguh kita telah menyaksikan, sebagaimana dunia ikut menyaksikan pembantaian dan pembersihan etnis Muslim di Tanah Burma, sebagaimana hal yang sama pernah terjadi di Bosnia, Kosovo dan terus terjadi di Palestina.
Kami menghimbau khususnya kepada saudara-saudara Muslim di Mesir, Tunisia dan Turki agar mereka turun ke jalan untuk menampakan dukungan dan persaudaraan dengan kaum Muslimin Burma yang tertindas.
Dan terkhusus kepada Kaum Muslimin Indonesia dan Malaysia serta Bangladesh, sesungguhnya kalian berada pada wilayah Bulan Sabit Islam, yang seharusnya menjadi benteng Islam dari arah Timur Jauh, maka jangan biarkan Islam diserang dari arah kalian, inilah saudara-saudara kalian kaum Muslimin di Burma telah memanggil kalian, inilah kesempatan kalian untuk berjihad dengan harta dan nyawa guna menolong saudara-saudara kalian di Burma. Sesungguhnya mereka kaum Muslimin di Burma, sedang hidup diatas api, tidur dengan api dan berselimutkan api, maka kewajiban kalian setelah Iman kepada Allah, adalah berjihad untuk menolong mereka.
Ya Allah Tolonglah Saudara-saudara kami Muslim Burma yang tertindas di Burma dan yang menggelandang untuk menyelamatkan Dien mereka.
Ya Allah tolonglah Saudara-saudara kami yang tertindas di Thailand, Kashmir, Srilanka, Assam, Gujarat, Palestine, Suriah dan disetiap tempat.. Tolonglah mereka dengan sebaik-baik Pertolongan-Mu ya Rabb.
Ya Allah kirimkanlah tentara-Mu para Mujahidin untuk menolong mereka..
Ya Allah tolonglah para Mujahidin di setiap tempat, satukanlah kalimat mereka dan hati mereka, angkatlah perpecahan dan perbedaan diantara mereka..
Ya Allah Yang Maha Perkasa, Hancurkanlah kaum kafir Burma, India, Srilanka, Thailand dan Nusairiy.. Binasakanlah mereka dan jangan sisakan satupun dari mereka.
Akhir seruan kami, segala puji hanya bagi Allah dan salawat serta salam bagi Nabi Muhammad serta untuk seluruh keluarga dan sahabatnya dan yang mengikuti jalannya hingga hari kiamat.
Shaban 1434/Juli 2013
Sumber: (Markaz Sada Al-Jihad untuk Media)
Continue reading